best moment
this moment dengan temen sekamar :v.
best moment 2
observasi ke SMA 3 DEMAK
best moment 3
kenangan manis sunrise bratva
best moment 4
Inagurasi UNNES 2013
best moment 5
pernikahan mba Tika :)
Kamis, 09 Januari 2014
PPT MATERI TIK BK (1)
16.39
No comments
Teknik Summary and Termination
16.17
No comments
PEMBAHASAN
Menurut Supriyo dan Mulawarman (2006)
summary (ringkasan/kesimpulan) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan
konselor untuk menyimpulkan atau ringkasan mengenai apa yang telah dikemukakan
klien pada proses komunikasi konseling.
Membuat ringkasan adalah ketrampilan
konselor untuk mendapatkan kesimpulan atau ringkasan mengenai apa yang telah
dikemukakan oleh konseli pada proses wawancara konseling. Menurut Willis (2004)
konselor harus mampu membuat kesimpulan sementara bersama klien agar
mempertajam masalah, meningkatkan kualitas diskusi, maju ke taraf selanjutnya
ke arah tujuan, menyimpulkan hal-hal yang dibicarakan, dan klien memperoleh
kilas balik dari hasil pembicaraan sehingga dia tahu bahwa konseling makin
maju.
Summary bermanfaat sangat penting bagi
konselor dan konseli, karena memberi kesempatan berpartisipasi pada keduanya.
Selain itu summary sangat penting untuk mengakhiri satu bagian atau bagian
pertama yang kemudian dilanjutkan pada bagian berikutnya dan juga memberikan
kesempatan bagi konselor untuk mendorong konseli mengutarakan perasaannya
mengenai proses konseling.
Menurut Willis (2004)
tujuan dari summarizing) adalah:
a.
Memberikan kesempatan kepada klien untuk
mengambil kilas balik (feed back) dari hal-hal yang telah dibicarakan.
b.
Untuk menyimpulkan kemajuan hasil
pembicaraan secara bertahap.
c.
Untuk meningkatkan kualitas diskusi.
d.
Mempertajam atau memperjelas fokus pada
wawancara konseling.
Summary dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) Summary bagian, dan (2) Summary akhir/keseluruhan.
a. Summary
Bagian
Dalam Supriyo dan Mulawarman (2006), summary bagian
merupakan kesimpulan yang dibuat setiap saat dari percakapan klien dan konselor
yang dipandang penting. Modalita yang digunakan dalam teknik ini adalah: “Untuk
sementara ini.........” ; “Sampai saat ini.........” ; “Sejauh ini.......” ; “Selama
ini.....” dsb.
Contoh:
Klien : “Begini Bu, akhir-akhir
ini banyak teman yang mengecewakan saya, ada yang tiba-tiba marah tanpa alasan
yang jelas, ada yang tiba-tiba menjelekkan saya. Saya pun jadi merasa
terganggu, selain menjadi beban pikiran saya, saya juga jadi tidak bisa
berkonsentrasi belajar dan akibatnya nilai-nilai saya turun drastis”.
Konselor : “Sejauh ini dari pembicaraan
kita dapat saya simpulkan bahwa kita telah membahas masalah yang Anda hadapi
yaitu masalah soal teman Anda dan masalah mengenai konsentrasi belajar Anda
yang terganggu. Sekarang marilah kita mencari cara-cara yang dapat membantu
Anda membantu masalah tersebut”.
b. Summary
Akhir/keseluruhan
Dalam buku Supriyo dan Mulawarman (2006), summary
akhir merupakan kesimpulan yang dibuat pada akhir konseling sebagai kesimpulan
keseluruhan pembicaraan. Bentuk kesimpulan yang dibuat pada akhir komunikasi
konseling sebagai kesimpulan keseluruhan pembicaraan. Bentuk kesimpulan akhir
tersebut didahului oleh kata-kata pendahuluan seperti: “Sebagai kesimpulan
akhir....” ; “Sebagai puncak pembicaraan kita.....” ; “Sebagai penutup
pembicaraan kita.....” ; “Dari awal hingga akhir pembicaraan kita....” dsb.
Contoh:
Klien :
“Begini Bu, akhir-akhir ini banyak teman yang mengecewakan saya, ada yang
tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas, ada yang tiba-tiba menjelekkan saya.
Saya jadi merasa terganggu, selain menjadi beban pikiran saya, saya juga tidak
bisa berkonsentrasi belajar dan akibatnya nilai-nilai saya turun drastis”.
Konselor :
“Sebagai kesimpulan akhir dari pembicaraan kita tadi Ibu kemukakan bahwa Anda
mempunyai kesulitan untuk berkonsentrasi dalam belajar”.
Menurut Supriyo dan Mulawarman (2006)
termination (pengakhiran) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor
untuk mengakhiri komunikasi berikutnya maupun mengakhiri karena komunikasi
konseling betul-betul telah berakhir. Pada tahapan termination ini sebenarnya
konselor bersama konseli menetapkan kesimpulan atas apa yang telah dihasilkan
dalam proses konseling tersebut. Bila perlu, refleksikan kembali bagaimana
perasaan konseli setelah prose konseling dilakukan, dan bagaimana pula pendapat
konseli mengenai konselor, suasana yang ada dalam prose konseling. Hal tersebut
penting karena dengan demikian akan menjadi koreksi tersendiri bagi konselor
dalam pelaksanaan konseling berikutnya.
Brammer (1987) mengemukakan cara-cara
mengakhiri konseling, antara lain:
a. Merujuk
pada keterbatasan waktu yang telah disepakati bersama.
b. Meringkas
atau merangkum. Teknik meringkas isi konseling ini dapat dilakukan jika
konselor menginginkan ringkasan faktor-faktor penting yang telah dibicarakan
selama proses konseling. Ringkasan tersbut hendaknya menggambarkan isi pokok
dari wawancara konseling.
c. Merujuk
pada waktu yang akan datang. Dilakukan jika waktu konseling tidak cukup, bisa
juga jika konselor ingin memelihara hubungan baik dengan konseli, hal ini bisa
ditunjukkan dengan menggunakan pernyataan yang merujuk pada pertemuan
berikutnya, misalnya, “Waktu kita hampir habis, kapan Anda ingin kembali
lagi?”.
d. Berdiri.
Berdiri merupakan persyaratan teknik persuasif untuk mengakhiri konseling, maka
konselor dapat berdiri yang mengisyaratkan bahwa konseling telah berakhir, dan
hal ini juga daoat dilakukan secara lembut sebelum konselin mempunyai
kesempatan untuk pindah kepada topik lain. Akan tetapi ini tidak cocok di
gunakan di Indonesia.
e. Gerak
isyarat halus. Gerak isyarat halus ini bisa dilakukan dengan melihat jam tangan
atau jam dinding.
Pengakhiran atau termination ini
bertujuan untuk menyelesaikan kegiatan konseling atau bila masih diperlukan
melanjutkan ke pertemuan selanjutnya.
Tujuan dari termination menurut Fauzan,
Hidayah dan Ramli (2008) menyebutkan bahwa tujuan dari termination adalah:
a. Memiliki
peta kognitif perjalanan konseling, yaitu apa dan bagaimana tahap-tahap yang
telah dilalui dan apa yang merupakan tahap konseling mendatang.
b. Mencapai
pemahaman antara konselor dan konseli mengenai apa yang telah berhasil dicapai
bersama dalam konseling.
c. Mengkomunikasikan
keperluan penyesuaian konseli terhadap pengambilan tanggung jawab seusai
konseling.
d. Memelihara
persepsi pantas konseli tentang penerimaan dan pemahaman konselor.
Menurut Fauzan, Hidayah dan Ramli
(2008:61) menyebutkan bahwa jenis termination yaitu:
a. Pengakhiran
langsung: murni
Menunjuk
pada verbalisasi konselor tersurat atau gamblang, dengan menyebutkan akan
diakhiri pertemuan konseling dalam bentuk kalimat singkat, cukup tegas, dan
menandakan kaidah bahasa pragmatik.
b. Pengakhiran
tidak langsung: nonverbal, verbal
Contoh:
Respon
nonverbal : memandang jam
dinding/arloji, menata meja, mengemasi buku.
Respon
verbal : biasanya ditumpangkan
pada teknik lain, misalnya interpretasi: “telah banyak yang anda ungkap
sehingga membuat anda kelelahan, apakah anda bermaksud mengakhiri dulu
pertemuan ini?”
Respon
verbal dengan teknik perangkuman akhir: “Dengan selesainya semua yang ingin
anda ungkapkan dalam konseling hari ini, baik anda ingat-ingat dan lakukan apa
garis besar yang kita bicarakan tadi”.
Cara
pengakhiran ini dapat dilakukan dengan cara misalnya konselor:
1)
Merapikan kembali alat-alat yang telah
digunakan,
2)
Membuat kesimpulan akhir,
3)
Membicarakan tugas-tugas yang hendak
dilakukan sebelum pertemuan yang akan datang,
4)
Dapat dilakukan secara langsung,
misalnya konselor menunjukkan pembatasan waktu (time limit) konseling yang
telah disepakati pada awal pertemuan.
Contoh:
Konselor :
“Baiklah, sekarang waktu telah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Sesuai dengan
kesepakatan kita di awal pertemuan tadi bahwa pertemuan kita ini hanya sampai
pukul 09.30 WIB, maka marilah kita akhiri pertemuan ini dan dapat kita
lanjutkan minggu depan”
4.
Pedoman
1. Melakukan
Summary Akhir (bahas rencana tindakan/tugas yag kan dilakukan)
2. Kesepakatan
waktu pertemuan lanjutan (jika masih ada pertemuan berikutnya)
3. Terminasi
4. Ucapan
terimaksih
5. Bersalaman
dan mengantarkan klien sampai pintu
Fauzan, Lutfi. Nur Hidayah & M.
Ramli. 2008. Teknik-teknik Komunikasi
untuk Konselor. Malang: Depdiknas UM UPT BK.
Supriyo dan Mulawarman. 2006. Ketrampilan Dasar Konseling. Handout.
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling Individual Teori dan Praktik.
Bandung: Alfabeta.
PETA KOGNITIF TEORI PERKEMBANGAN KARIER
16.15
No comments
PETA
KOGNITIF TEORI PERKEMBANGAN KARIER
|
TEORI
|
ASPEK
|
|||
|
Karakteristik
|
Perkembangan Psikologi
|
Pengaruh Lingkungan
|
Wawasan Konselor
|
|
|
Trait
And Factor
|
Asumsi
bahwa memiliki pola kemampuan dan minat yang dapat diketahui melalui testing,
dapat juga diselidiki kualitas-kualitas apa yang dituntut dalam berbagai
bidang pekerjaan. Seseorang dapat
menemukan jabatan yang cocok baginya dengan cara mengkorelasikan kemampuan,
potensi dan wujud minat yang dimilkinya dengan kulaitas-kualitas yang secara
obyektif dituntut bila akan memegang jabatan tertentu.
|
Tidak
ada aspek perkembangan psikologis, dikarenakan di dalam teori ini terdapat
asumsi bahwa setiap orang hanya memilki satu jabatan yang cocok baginya
|
Tidak
ada aspek pengaruh lingkungan karena pilihan jabatan ditentukan oleh hasil
tes psikologis.
|
Sebagai
seorang konselor harus mampu membaca dan menafsirkan hasil dari tes
psikologis klien, sehingga klien paham dan mengerti minat, bakat dan
kemampuan.
|
|
Ginzberg
|
-Perkembangan
dicirikan dengan adanya masa (fantasi, tentative, dan realistic)
|
-Fantasi (4-10
th) –pilihan karier tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya
-Tentative
(11-18 th) – berorientasi pada Minat
-Realistik
(>19 th) – sudah mulai bisa menilai pengalaman kerja dengan tuntuan
pekerjaan.
|
-Fantasi – media, dari menonton tv,
mendengarkan cerita orang tua atau teman.
-Tentative
– pengaruh teman.
-Realistik
– pengaruh orang tua
|
|
|
Anne
Roe
|
|
|
|
|
|
Super
|
-Kerja
itu perwujudan konsep diri atau teori matching.
-life career rainbow (self, life – span,
life – space).
|
-Mempunyai
perkembangan psikologi dalam bentuk tahapan, yakni: Growth, Exploration,
Establishment, Maintenance, Decline.
-Tahapan
vokasional: Crysrallization,
Spesifikasi, Implementasi, Stabilisasi, Konsolidasi.
|
-Ada
pengaruh lingkungan dalam pemilihan karir menurut Super seperti masyarakat
sekitar, status sosial-ekonomi, pengaruh dari keluarga baik keluarga inti
maupun keluarga besar.
|
-Seorang
konselor harus mempunyai wawasan yang luas mengenai jenis-jenis pekerjaan
yang ada.
-konselor
juga hrus memiliki wawasan mengenai tahapan perkembangan manusia
-
konselor juga harus jeli terhadap bakat, minat yang dimiliki oleh
siswa/klienya.
-Dan
konselor dapat membaca situasi lingkungan yang ada di sekitar konseli.
|
|
John
Holland
|
-Pilihan
pekerjaan merupakan hasil interaksi diri dengan kekuatan-kekuatan lingkungan
luar.
-Minat
menjadi cirri kepribadian yang berupa ekspresi diri dalam bidang pekerjaan.
-Penggolongan
pekerjaan menjadi 6 lingkungan kerja, yaitu: lingkungan realistik,
intelektual, sosial, konvensional, enterprise, artistik.
-Adanya
enam jenis kepribadian yaitu: realistik, intelektual, sosial, konvensional,
enterprise, artistik
|
-Setiap
individu harus megetahui minatnya dan memampu mengenali kepribadia serta
lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kepribadiannya. agar ia dapat
menentuan pilihan karir yang sesuai dengannya.
|
-Lingkungan
memiliki peran penting dalam pencocokan pilihan karir dengan kepribadian yang
dimilikinnya
-Lingkungan
menggambarkan orang-orangnya, karena diciptakan oleh orang-orang yang
mempunyai minat, kemampuan dan pandangan yang cocok. Sehingga individu akan
merasa nyaman bila berada dlingkungan yang orang-orangnya memiliki minat,
kemampuan dan pandangan yang cocok dengannya.
|
Konselor
harus mampu membantu klien untuk mengenali dirinya sendiri, mengenali
lingkungan, mengetahui minatnya dan membantu mengarahkan klien dalam
mencocokan pilihan karier atau pekerjaan dengan kepribadian, minat dan
lingkungannya, Karena lingkungan dan
kepribadian yang sesuai dapat menghasilkan kecocokan karir.
|
|
Crumboltz
|
Konseling karir menurut Krumboltz adalah untuk
memfasilitasi perolehan pengetahuan tentang diri dan skill yang dibutuhkan
untuk menangani dunia yang selalu berubah yang dipenuhi dengan ketidakpastian.
Teori Krumboltz juga menyebutkan ada empat kategori faktor yang mempengaruhi
pengambilan keputusan karier seseorang yaitu, factor-faktor genetik,
lingkungan, belajar, dan ketrampilan menghadapi tugas atau masalah.
|
Klien diarahkan untuk mau belajar dari pelatihan
yang diterimanya. Individu yang tidak belajar untuk mengambil keuntungan
dalam kesempatan pembelajaran yang diberikan kepada mereka dalam pelatihan
dasar berkelanjutan cenderung untuk membuat keputusan tidak bagus.
|
Dalam
teori ini faktor lingkungan dapat berpengaruh dalam pengambilan karir seorang
klien, misalnya kemajuan teknologi, lingkungan masyarakat, perubahan
dalam organisasi sosial, sumber keluarga. Faktor-faktor ini umumnya ada di
luar kendali individu, tetapi pengaruhnya bisa direncanakan atau tidak bisa
direncanakan.
|
Dengan
berpegang pada teori ini, konselor akan berpikiran bahwa kemampuan/potensi
yang dimiliki klien harus terus dikembangkan untuk menangani
dunia yang selalu berubah dan yangdipenuhi
dengan ketidakpastian.
|
KONSEP DASAR, RUANG LINGKUP, PRINSIP dan ASAS BK BELAJAR
16.13
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Siswa
adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Di dalam proses belajar mengajar sangat banyak permasalahan
yang dihadapi oleh siswa. Guru yang profesional akan membantu setiap
permasalahan yang dihadapi oleh siswatersebut terutama adalah guru
Bimbingan dan Konseling. Oleh sebab itu seorang guru BK haruslah memahami apa
itu bimbingan dan konseling belajar agar seorang guru BK dapat mengentaskan
permasalahan yang terjadi pada siswa secara tepat. Dalam makalah ini kami akan
mengulas mengenai konsep dasar, ruang lingkup, prinsip-prinsip serta azas-azas
dalam bimbingan dan konseling belajar.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa konsep dasar bimbingan dan konseling
belajar?
2.
Apa saja ruang lingkup dari bimbingan
dan konseling belajar?
3.
Apa saja prinsip-prinsip bimbingan dan
konseling belajar?
4.
Apa saja azas-azas bimbingan dan
konseling belajar?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Dasar Bimbingan dan Konseling Belajar
Bimbingan merupakan bantuan yang
diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu
untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian bimbingan yang lebih luas,
bahwa bimbingan adalah “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara
berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah
mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami
dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk
kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”.
Konseling berasal dari bahasa latin consillium
berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami.
Sedangkan dalam bahasa anglosaxon istilah konseling berasal dari istilah sellan
yang berarti menyerahakan atau menyampaikan. Sebagaimana istilah bimbingan,
istilah konseling juga mengalami perkembangan dan perubahan.
Belajar merupakan aktivitas siswa dalam rangka mengembangkan potensi
dirinya, baik menyangkut aspek kognitif (intelektual), afektif (sikap, keyakinan, kebiasaan), konatif
(motif, minat, cita-cita) dan psikomotorik (ketrampilan), melalui interaksi
dengan lingkungan (seperti di rumah dengan orang tua, di sekolah dengan gru,
dsb). Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa
sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.
Layanan bimbingan belajar
yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik
mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,
materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta
berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu,
teknologi dan kesenian.
Secara rinci tujuan
bimbingan belajar dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif
bagi seorang anak atau sekelompok anak.
2.
Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dan
menggunakan buku pelajaran.
3.
Memberikan informasi (saran dan petunjuk) bagaimana
memanfaatkan perpustakaan.
4.
Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri dalam
ulangan dan ujianMemilih suatu bidang studi (mayor
atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasaan, cita-cita dan
kondisi, fisik atau kesehatannya.
5.
Menunjukkan cara-cara menghadapi kesulitan dalam
bidang studi tertentu.
6. Memilih suatu bidang studi (mayor
atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasaan, cita-cita dan
kondisi, fisik atau kesehatannya.
7. Menentukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal
belajarnya.
8. Memilih pelajaran tambahan baik yang berhubungan
dengan pelajara disekolah maupun untuk pengembangan bakat dan kariernya dimasa
depan.
Ruang
Lingkup Bimbingan dan Konseling Belajar
Dibawah ini merupakan ruang lingkup bimbingan dan
konseling belajar:
1.
Kesulitan belajar
Kesulitan
belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi daam suatu proses belajar yang
ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hail belajar
Yaitu
hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang
meliputi :
1.
Kesulitan belajar
Kesulitan
belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi daam suatu proses belajar yang
ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hail belajar.
a. Faktor internal
Yaitu
hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang
meliputi :
1.
Faktor fisologi (yang
bersifat jasmani) seperti sakit atau tidak fit.
2.
Faktor psikiologis (yang
bersifat rohani) seperti tingkat kecerdasan, sikap siswa, bakat siswa, minat
siswa, motivasi siswa.
b. Faktor
eksternal
Yaitu
hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa yang meliputi :
1.
Faktor non sosial seperti
keluarga, keadaan ekonomi, alat pelajaran, kondisi gedung, kurikulum, waktu
sekolah dan disiplin kerja, orang tua.
2.
Faktor sosial seperti
media massa, teman bergaul, lingkungan tetangga, aktivitas dalam masyarakat.
Diagnosis Kesulitan Belajar, sebelum
menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa guru sangat
dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala
dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan
belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang
bertujuan menetapkan jenis penyakit yakni jenis kesulitan belajar siswa. Dalam
melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas
langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan
belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai
diagnosis kesulitan belajar.
Banyak
langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal
adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani
(1991) sebagai berikut:
1. Melakukan
observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti
pelajaran.
2. Memeriksa
penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan
belajar
3. Mewawancarai
orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin
menimbulkan kesulitan belajar
4. Memberikan
tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakiki kesulitan
belajar yang dialami siswa.
5.
Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya
kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Pemecahan Masalah Kesulitan Belajar, banyak
alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya.
Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk
terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut:
1. analisis
hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian
tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang
dihadapi siswa.
2. Memerlukan
dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3. Menyusun
program perbaikan khususnya remedial teaching (pengajaran perbaikan)
4.
Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru
melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
1. Bimbingan bagi murid
berkebiasaan buruk, murid lambat belajar, dan murid cepat belajar.
a.
Murid yang berkebiasaan buruk
Murid
yang berkebiasaan buruk adalah perbuatan atau sikap seorang murid yang berulang
kali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan perbuatan attau
sikap sebagaimana diharapkan dari padanya oleh orang lain (badan penelitian dan
pengembangan pendidikan (BP3K), Jakarta:1987).
b.
Murid lambat belajar
Siswa lamban belajar dan berprestasi
rendah adalah siswa yang kurang mampu menguasai pengetahuan dalam batas waktu
yang telah ditentukan karena ada factor tertentu yang mempengaruhinya.
Siswa yang lamban belajar dan
berprestasi rendah dapat pula di akibatkan oleh factor IQ. Siswa lamban belajar
yang di sebabkan oleh factor IQ, pada umumnya memiliki prestasi rendah, lain
halnya dengan siswa lamban belajar yang diakibatkan oleh lemahnya kemampuan
menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar tertentu pada sebagian materi
pelajaran yang harus dikuasi sebelumnya.Cirri – Ciri Umum Siswa Lamban Belajar, yaitu
Ø Fisik
Ø Perkembangan mental
Ø Perkembangan intelek
Ø Sosial
Ø Perkembangan kepribadian
Ø Proses belajar yang dilakukannya
c.
Murid cepat belajar
Secara umum dapat
disimpulkan bahwa murid cepat belajar adalah:
1)
Murid yang pada umumnya mempunyai intelegensi tinggi.
2)
Murid yang cepat sekali menerima, menguasai, dan memahami serta memproduksi
pelajaran yang diterimanya.
3)
Murid yang rengking hasil rata-rata prestasi akademisnya tinggi.
4)
Murid yang sikap, kerajinan, kebersihan dan kesehatannya baik.
Virget S.
Ward menyatakan bahwa pendidikan bagi anak-Murid Cepat Belajar perlu perhatian
seksama. Dia menganjurkan argumentasi sebagai berikut:
a. Perlunya
program khusus untuk Murid Cepat Belajar
b. Dibutuhkan
teori tentang pengalaman pendidikan, mana praktek pendidikan yang berhasil dan
mana praktik pendidikan yang gagal untuk anak-Murid Cepat Belajar.
2.
Kesulitan belajar khusus
a.
Gangguan perkembangan persepsi
Konsep
modalitas-perseptual yaitu gangguan tentang pemrosesan perseptual yang terkait
dengan kesulitan belajar didasarkan pada premis bahwa anak-anak belajar dengan
cara yang berbeda-beda. Ada tiga alternatif metode pembelajaran, yaitu:
1) Memperkuat modalitas
yang lemah
2)
Mengajar melalui keseluruhan modalitas
3)
Menggabungkan kedua metode tersebut.
Sistem
perseptual bemuatan lebih berarti bahwa penerimaan informasi dari suatu
modalitas lain.
Jenis
persepsi yaitu diantaranya, persepsi auditoris, persepsi visual, serta persepsi
taktil dan kinestetik.
b.
Bimbingan kesulitan membaca
1.
Hakikat kesulitan membaca (Disleksia)
Menderita
disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau
simbol-simbol tulis atau “kesulitan membaca”.
2.
Asesmen
Suatu
sekolah sebaiknya memiliki data yang lengkap tentang anak. Data tersebut
mencakup riwayat anak sejak dikandung. Keadaan keluarga, skor tes inteligensi,
kondisi pendengaran dan penglihatan, dan sebagainya. Data tersebut hendaknya
tersimpan secara baik tetapi mudah untuk memperolehnya kembali. Data semacam
itu belum dapat secara langsung digunakan untuk memberikan intervensi bagi anak
berkesulitan belajar tetapi dapat memberikan gambaran umum tentang anak.
3.
Teori Disleksia
Gangguan
kesulitan membaca menurut tokoh biologi terletak pada gangguan fungsi otak
(pada belahan otak sebelah kiri dan terkadang otak disebelah otak kanan).
Perkembangan disleksia dalam bahasa yang berbeda bersumber dari biologis,
gangguan otak kiri yang berhubungan dengan proses fonologi. Bagian otak yang
diduga berkaitan dengan terjadinya disleksia antara lain: Corpus Callosum kiri,
Lobus parieto-temporal kiri, Lobus temporal kiri, Lobus pre-frontal.
4.
Penyebab Disleksia
Berbagai
riset teori (Frith, 1997; Morton dan Frith, 1995 dalam Erskine, 2005)
menunjukkan ada beberapa sebab disleksia yaitu, biologis, kognitif, dan
perilaku.
3.
Apa saja prinsip-prinsip bimbingan dan
konseling belajar?
3.
Memberikan informasi (saran dan petunjuk) bagaimana
memanfaatkan perpustakaan.
5.
Menunjukkan cara-cara menghadapi kesulitan dalam
bidang studi tertentu.
7. Menentukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal
belajarnya.
Ruang
Lingkup Bimbingan dan Konseling Belajar
Yaitu
hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang
meliputi :
b. Faktor
eksternal
Diagnosis Kesulitan Belajar, sebelum
menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa guru sangat
dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala
dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan
belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang
bertujuan menetapkan jenis penyakit yakni jenis kesulitan belajar siswa. Dalam
melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas
langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan
belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai
diagnosis kesulitan belajar.
3. Mewawancarai
orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin
menimbulkan kesulitan belajar
5.
Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya
kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
4.
Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru
melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
b.
Murid lambat belajar
Siswa yang lamban belajar dan
berprestasi rendah dapat pula di akibatkan oleh factor IQ. Siswa lamban belajar
yang di sebabkan oleh factor IQ, pada umumnya memiliki prestasi rendah, lain
halnya dengan siswa lamban belajar yang diakibatkan oleh lemahnya kemampuan
menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar tertentu pada sebagian materi
pelajaran yang harus dikuasi sebelumnya.Cirri – Ciri Umum Siswa Lamban Belajar, yaitu
1)
Murid yang pada umumnya mempunyai intelegensi tinggi.
Konsep
modalitas-perseptual yaitu gangguan tentang pemrosesan perseptual yang terkait
dengan kesulitan belajar didasarkan pada premis bahwa anak-anak belajar dengan
cara yang berbeda-beda. Ada tiga alternatif metode pembelajaran, yaitu:
Sistem
perseptual bemuatan lebih berarti bahwa penerimaan informasi dari suatu
modalitas lain.
Menderita
disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau
simbol-simbol tulis atau “kesulitan membaca”.
3.
Teori Disleksia
4.
Penyebab Disleksia
Langganan:
Komentar (Atom)














