Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya :)

best moment

this moment dengan temen sekamar :v.

best moment 2

observasi ke SMA 3 DEMAK

best moment 3

kenangan manis sunrise bratva

best moment 4

Inagurasi UNNES 2013

best moment 5

pernikahan mba Tika :)

Kamis, 09 Januari 2014

Poster Editan :D

hayoo.. siapa yang seperti ini saat ujian.. :)

Teknik Summary and Termination

PEMBAHASAN
Menurut Supriyo dan Mulawarman (2006) summary (ringkasan/kesimpulan) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor untuk menyimpulkan atau ringkasan mengenai apa yang telah dikemukakan klien pada proses komunikasi konseling.
Membuat ringkasan adalah ketrampilan konselor untuk mendapatkan kesimpulan atau ringkasan mengenai apa yang telah dikemukakan oleh konseli pada proses wawancara konseling. Menurut Willis (2004) konselor harus mampu membuat kesimpulan sementara bersama klien agar mempertajam masalah, meningkatkan kualitas diskusi, maju ke taraf selanjutnya ke arah tujuan, menyimpulkan hal-hal yang dibicarakan, dan klien memperoleh kilas balik dari hasil pembicaraan sehingga dia tahu bahwa konseling makin maju.
Summary bermanfaat sangat penting bagi konselor dan konseli, karena memberi kesempatan berpartisipasi pada keduanya. Selain itu summary sangat penting untuk mengakhiri satu bagian atau bagian pertama yang kemudian dilanjutkan pada bagian berikutnya dan juga memberikan kesempatan bagi konselor untuk mendorong konseli mengutarakan perasaannya mengenai proses konseling.

Menurut Willis (2004) tujuan dari summarizing) adalah:
a.         Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik (feed back) dari hal-hal yang telah dibicarakan.
b.         Untuk menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap.
c.         Untuk meningkatkan kualitas diskusi.
d.        Mempertajam atau memperjelas fokus pada wawancara konseling.
Summary dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Summary bagian, dan (2) Summary akhir/keseluruhan.
a.       Summary Bagian
Dalam Supriyo dan Mulawarman (2006), summary bagian merupakan kesimpulan yang dibuat setiap saat dari percakapan klien dan konselor yang dipandang penting. Modalita yang digunakan dalam teknik ini adalah: “Untuk sementara ini.........” ; “Sampai saat ini.........” ; “Sejauh ini.......” ; “Selama ini.....” dsb.
Contoh:                                                                                         
Klien                    : “Begini Bu, akhir-akhir ini banyak teman yang mengecewakan saya, ada yang tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas, ada yang tiba-tiba menjelekkan saya. Saya pun jadi merasa terganggu, selain menjadi beban pikiran saya, saya juga jadi tidak bisa berkonsentrasi belajar dan akibatnya nilai-nilai saya turun drastis”.
Konselor              : “Sejauh ini dari pembicaraan kita dapat saya simpulkan bahwa kita telah membahas masalah yang Anda hadapi yaitu masalah soal teman Anda dan masalah mengenai konsentrasi belajar Anda yang terganggu. Sekarang marilah kita mencari cara-cara yang dapat membantu Anda membantu masalah tersebut”.
b.      Summary Akhir/keseluruhan
Dalam buku Supriyo dan Mulawarman (2006), summary akhir merupakan kesimpulan yang dibuat pada akhir konseling sebagai kesimpulan keseluruhan pembicaraan. Bentuk kesimpulan yang dibuat pada akhir komunikasi konseling sebagai kesimpulan keseluruhan pembicaraan. Bentuk kesimpulan akhir tersebut didahului oleh kata-kata pendahuluan seperti: “Sebagai kesimpulan akhir....” ; “Sebagai puncak pembicaraan kita.....” ; “Sebagai penutup pembicaraan kita.....” ; “Dari awal hingga akhir pembicaraan kita....” dsb.
            Contoh:
Klien               : “Begini Bu, akhir-akhir ini banyak teman yang mengecewakan saya, ada yang tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas, ada yang tiba-tiba menjelekkan saya. Saya jadi merasa terganggu, selain menjadi beban pikiran saya, saya juga tidak bisa berkonsentrasi belajar dan akibatnya nilai-nilai saya turun drastis”.
Konselor         : “Sebagai kesimpulan akhir dari pembicaraan kita tadi Ibu kemukakan bahwa Anda mempunyai kesulitan untuk berkonsentrasi dalam belajar”.

Menurut Supriyo dan Mulawarman (2006) termination (pengakhiran) adalah ketrampilan/teknik yang digunakan konselor untuk mengakhiri komunikasi berikutnya maupun mengakhiri karena komunikasi konseling betul-betul telah berakhir. Pada tahapan termination ini sebenarnya konselor bersama konseli menetapkan kesimpulan atas apa yang telah dihasilkan dalam proses konseling tersebut. Bila perlu, refleksikan kembali bagaimana perasaan konseli setelah prose konseling dilakukan, dan bagaimana pula pendapat konseli mengenai konselor, suasana yang ada dalam prose konseling. Hal tersebut penting karena dengan demikian akan menjadi koreksi tersendiri bagi konselor dalam pelaksanaan konseling berikutnya.
Brammer (1987) mengemukakan cara-cara mengakhiri konseling, antara lain:
a.       Merujuk pada keterbatasan waktu yang telah disepakati bersama.
b.      Meringkas atau merangkum. Teknik meringkas isi konseling ini dapat dilakukan jika konselor menginginkan ringkasan faktor-faktor penting yang telah dibicarakan selama proses konseling. Ringkasan tersbut hendaknya menggambarkan isi pokok dari wawancara konseling.
c.       Merujuk pada waktu yang akan datang. Dilakukan jika waktu konseling tidak cukup, bisa juga jika konselor ingin memelihara hubungan baik dengan konseli, hal ini bisa ditunjukkan dengan menggunakan pernyataan yang merujuk pada pertemuan berikutnya, misalnya, “Waktu kita hampir habis, kapan Anda ingin kembali lagi?”.
d.      Berdiri. Berdiri merupakan persyaratan teknik persuasif untuk mengakhiri konseling, maka konselor dapat berdiri yang mengisyaratkan bahwa konseling telah berakhir, dan hal ini juga daoat dilakukan secara lembut sebelum konselin mempunyai kesempatan untuk pindah kepada topik lain. Akan tetapi ini tidak cocok di gunakan di Indonesia.
e.       Gerak isyarat halus. Gerak isyarat halus ini bisa dilakukan dengan melihat jam tangan atau jam dinding.

Pengakhiran atau termination ini bertujuan untuk menyelesaikan kegiatan konseling atau bila masih diperlukan melanjutkan ke pertemuan selanjutnya.
Tujuan dari termination menurut Fauzan, Hidayah dan Ramli (2008) menyebutkan bahwa tujuan dari termination adalah:
a.       Memiliki peta kognitif perjalanan konseling, yaitu apa dan bagaimana tahap-tahap yang telah dilalui dan apa yang merupakan tahap konseling mendatang.
b.      Mencapai pemahaman antara konselor dan konseli mengenai apa yang telah berhasil dicapai bersama dalam konseling.
c.       Mengkomunikasikan keperluan penyesuaian konseli terhadap pengambilan tanggung jawab seusai konseling.
d.      Memelihara persepsi pantas konseli tentang penerimaan dan pemahaman konselor.

Menurut Fauzan, Hidayah dan Ramli (2008:61) menyebutkan bahwa jenis termination yaitu:
a.       Pengakhiran langsung: murni
Menunjuk pada verbalisasi konselor tersurat atau gamblang, dengan menyebutkan akan diakhiri pertemuan konseling dalam bentuk kalimat singkat, cukup tegas, dan menandakan kaidah bahasa pragmatik.
b.      Pengakhiran tidak langsung: nonverbal, verbal
Contoh:
Respon nonverbal       : memandang jam dinding/arloji, menata meja, mengemasi buku.
Respon verbal             : biasanya ditumpangkan pada teknik lain, misalnya interpretasi: “telah banyak yang anda ungkap sehingga membuat anda kelelahan, apakah anda bermaksud mengakhiri dulu pertemuan ini?”
Respon verbal dengan teknik perangkuman akhir: “Dengan selesainya semua yang ingin anda ungkapkan dalam konseling hari ini, baik anda ingat-ingat dan lakukan apa garis besar yang kita bicarakan tadi”.
Cara pengakhiran ini dapat dilakukan dengan cara misalnya konselor:
1)        Merapikan kembali alat-alat yang telah digunakan,
2)        Membuat kesimpulan akhir,
3)        Membicarakan tugas-tugas yang hendak dilakukan sebelum pertemuan yang akan datang,
4)        Dapat dilakukan secara langsung, misalnya konselor menunjukkan pembatasan waktu (time limit) konseling yang telah disepakati pada awal pertemuan.
Contoh:
Konselor           : “Baiklah, sekarang waktu telah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Sesuai dengan kesepakatan kita di awal pertemuan tadi bahwa pertemuan kita ini hanya sampai pukul 09.30 WIB, maka marilah kita akhiri pertemuan ini dan dapat kita lanjutkan minggu depan”
4.        Pedoman
1.       Melakukan Summary Akhir (bahas rencana tindakan/tugas yag kan dilakukan)
2.       Kesepakatan waktu pertemuan lanjutan (jika masih ada pertemuan berikutnya)
3.       Terminasi
4.       Ucapan terimaksih

5.       Bersalaman dan mengantarkan klien sampai pintu

Fauzan, Lutfi. Nur Hidayah & M. Ramli. 2008. Teknik-teknik Komunikasi untuk Konselor. Malang: Depdiknas UM UPT BK.
Supriyo dan Mulawarman. 2006. Ketrampilan Dasar Konseling. Handout.
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling Individual Teori dan Praktik. Bandung: Alfabeta.

PETA KOGNITIF TEORI PERKEMBANGAN KARIER

PETA KOGNITIF  TEORI PERKEMBANGAN KARIER


TEORI
ASPEK
Karakteristik
Perkembangan Psikologi
Pengaruh Lingkungan
Wawasan Konselor
Trait And Factor
Asumsi bahwa memiliki pola kemampuan dan minat yang dapat diketahui melalui testing, dapat juga diselidiki kualitas-kualitas apa yang dituntut dalam berbagai bidang pekerjaan.  Seseorang dapat menemukan jabatan yang cocok baginya dengan cara mengkorelasikan kemampuan, potensi dan wujud minat yang dimilkinya dengan kulaitas-kualitas yang secara obyektif dituntut bila akan memegang jabatan tertentu.
Tidak ada aspek perkembangan psikologis, dikarenakan di dalam teori ini terdapat asumsi bahwa setiap orang hanya memilki satu jabatan yang cocok baginya
Tidak ada aspek pengaruh lingkungan karena pilihan jabatan ditentukan oleh hasil tes psikologis.
Sebagai seorang konselor harus mampu membaca dan menafsirkan hasil dari tes psikologis klien, sehingga klien paham dan mengerti minat, bakat dan kemampuan.








Ginzberg
-Perkembangan dicirikan dengan adanya masa (fantasi, tentative, dan realistic)
-Fantasi (4-10 th) –pilihan karier tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya
-Tentative (11-18 th) – berorientasi pada Minat
-Realistik (>19 th) – sudah mulai bisa menilai pengalaman kerja dengan tuntuan pekerjaan.
 -Fantasi – media, dari menonton tv, mendengarkan cerita orang tua atau teman.
-Tentative – pengaruh teman.
-Realistik – pengaruh orang tua
-Memahami perkembangan individu sesuai dengan tahapan-tahapannya.
Anne Roe













Super
-Kerja itu perwujudan konsep diri atau teori matching.
-life career rainbow (self, life – span, life – space).
-Mempunyai perkembangan psikologi dalam bentuk tahapan, yakni: Growth, Exploration, Establishment, Maintenance, Decline.
-Tahapan vokasional: Crysrallization, Spesifikasi, Implementasi, Stabilisasi, Konsolidasi.
-Ada pengaruh lingkungan dalam pemilihan karir menurut Super seperti masyarakat sekitar, status sosial-ekonomi, pengaruh dari keluarga baik keluarga inti maupun keluarga besar.
-Seorang konselor harus mempunyai wawasan yang luas mengenai jenis-jenis pekerjaan yang ada.
-konselor juga hrus memiliki wawasan mengenai tahapan perkembangan manusia
- konselor juga harus jeli terhadap bakat, minat yang dimiliki oleh siswa/klienya.
-Dan konselor dapat membaca situasi lingkungan yang ada di sekitar konseli.
John Holland
-Pilihan pekerjaan merupakan hasil interaksi diri dengan kekuatan-kekuatan lingkungan luar.
-Minat menjadi cirri kepribadian yang berupa ekspresi diri dalam bidang pekerjaan.
-Penggolongan pekerjaan menjadi 6 lingkungan kerja, yaitu: lingkungan realistik, intelektual, sosial, konvensional, enterprise, artistik.
-Adanya enam jenis kepribadian yaitu: realistik, intelektual, sosial, konvensional, enterprise, artistik
-Setiap individu harus megetahui minatnya dan memampu mengenali kepribadia serta lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kepribadiannya. agar ia dapat menentuan pilihan karir yang sesuai dengannya.
-Lingkungan memiliki peran penting dalam pencocokan pilihan karir dengan kepribadian yang dimilikinnya
-Lingkungan menggambarkan orang-orangnya, karena diciptakan oleh orang-orang yang mempunyai minat, kemampuan dan pandangan yang cocok. Sehingga individu akan merasa nyaman bila berada dlingkungan yang orang-orangnya memiliki minat, kemampuan dan pandangan yang cocok dengannya.
Konselor harus mampu membantu klien untuk mengenali dirinya sendiri, mengenali lingkungan, mengetahui minatnya dan membantu mengarahkan klien dalam mencocokan pilihan karier atau pekerjaan dengan kepribadian, minat dan lingkungannya,  Karena lingkungan dan kepribadian yang sesuai dapat menghasilkan kecocokan karir.
Crumboltz
Konseling karir menurut Krumboltz adalah untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan tentang diri dan skill yang dibutuhkan untuk menangani dunia yang selalu berubah yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Teori Krumboltz juga menyebutkan ada empat kategori faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan karier seseorang yaitu, factor-faktor genetik, lingkungan, belajar, dan ketrampilan menghadapi tugas atau masalah.

Klien diarahkan untuk mau belajar dari pelatihan yang diterimanya. Individu yang tidak belajar untuk mengambil keuntungan dalam kesempatan pembelajaran yang diberikan kepada mereka dalam pelatihan dasar berkelanjutan cenderung untuk membuat keputusan tidak bagus.

Dalam teori ini faktor lingkungan dapat berpengaruh dalam pengambilan karir seorang klien, misalnya kemajuan teknologi, lingkungan masyarakat, perubahan dalam organisasi sosial, sumber keluarga. Faktor-faktor ini umumnya ada di luar kendali individu, tetapi pengaruhnya bisa direncanakan atau tidak bisa direncanakan.

Dengan berpegang pada teori ini, konselor akan berpikiran bahwa kemampuan/potensi yang dimiliki klien harus terus dikembangkan untuk menangani dunia yang selalu berubah dan  yangdipenuhi dengan ketidakpastian.



KONSEP DASAR, RUANG LINGKUP, PRINSIP dan ASAS BK BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Siswa adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Di dalam proses belajar mengajar sangat banyak permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Guru yang profesional akan membantu setiap permasalahan yang dihadapi oleh siswatersebut terutama adalah guru Bimbingan dan Konseling. Oleh sebab itu seorang guru BK haruslah memahami apa itu bimbingan dan konseling belajar agar seorang guru BK dapat mengentaskan permasalahan yang terjadi pada siswa secara tepat. Dalam makalah ini kami akan mengulas mengenai konsep dasar, ruang lingkup, prinsip-prinsip serta azas-azas dalam bimbingan dan konseling belajar.
 
B.     Rumusan Masalah
1.        Apa konsep dasar bimbingan dan konseling belajar?
2.        Apa saja ruang lingkup dari bimbingan dan konseling belajar?
3.        Apa saja prinsip-prinsip bimbingan dan konseling belajar?
4.        Apa saja azas-azas bimbingan dan konseling belajar?
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling Belajar
            Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”.
            Konseling berasal dari bahasa latin consillium berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Sedangkan dalam bahasa anglosaxon istilah konseling berasal dari istilah sellan yang berarti menyerahakan atau menyampaikan. Sebagaimana istilah bimbingan, istilah konseling juga mengalami perkembangan dan perubahan.
            Belajar merupakan aktivitas siswa dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, baik menyangkut aspek kognitif (intelektual), afektif  (sikap, keyakinan, kebiasaan), konatif (motif, minat, cita-cita) dan psikomotorik (ketrampilan), melalui interaksi dengan lingkungan (seperti di rumah dengan orang tua, di sekolah dengan gru, dsb). Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.
            Layanan bimbingan belajar yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.
            Secara rinci tujuan bimbingan belajar dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.         Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang anak atau sekelompok anak.
2.         Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dan menggunakan buku pelajaran.
3.         Memberikan informasi (saran dan petunjuk) bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
4.         Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri dalam ulangan dan ujianMemilih suatu bidang studi (mayor atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasaan,  cita-cita dan kondisi, fisik atau kesehatannya.
5.         Menunjukkan cara-cara menghadapi kesulitan dalam bidang studi tertentu.
6.   Memilih suatu bidang studi (mayor atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasaan,  cita-cita dan kondisi, fisik atau kesehatannya.
7.        Menentukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal belajarnya.
8.      Memilih pelajaran tambahan baik yang berhubungan dengan pelajara disekolah maupun untuk pengembangan bakat dan kariernya dimasa depan.
Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling Belajar
Dibawah ini merupakan ruang lingkup bimbingan dan konseling belajar:
1.          Kesulitan belajar
Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi daam suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hail belajar
Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi :
1.          Kesulitan belajar
Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi daam suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hail belajar.
a. Faktor internal
Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi :
1.      Faktor fisologi (yang bersifat jasmani) seperti sakit atau tidak fit.
2.      Faktor psikiologis (yang bersifat rohani) seperti tingkat kecerdasan, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.
b. Faktor eksternal 
Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa yang meliputi :
1.      Faktor non sosial seperti keluarga, keadaan ekonomi, alat pelajaran, kondisi gedung, kurikulum, waktu sekolah dan disiplin kerja, orang tua.
2.      Faktor sosial seperti media massa, teman bergaul, lingkungan tetangga, aktivitas dalam masyarakat.
Diagnosis Kesulitan Belajar, sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan jenis penyakit yakni jenis kesulitan belajar siswa. Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai diagnosis kesulitan belajar.
Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut:
1.      Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2.      Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar
3.      Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar
4.      Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakiki kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.      Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Pemecahan Masalah Kesulitan Belajar, banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut:
1.    analisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
2.      Memerlukan dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3.      Menyusun program perbaikan khususnya remedial teaching (pengajaran perbaikan)
4.      Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
1.         Bimbingan bagi murid berkebiasaan buruk, murid lambat belajar, dan murid cepat belajar.
a.       Murid yang berkebiasaan buruk
Murid yang berkebiasaan buruk adalah perbuatan atau sikap seorang murid yang berulang kali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan perbuatan attau sikap sebagaimana diharapkan dari padanya oleh orang lain (badan penelitian dan pengembangan pendidikan (BP3K), Jakarta:1987).
b.      Murid lambat belajar
Siswa lamban belajar dan berprestasi rendah adalah siswa yang kurang mampu menguasai pengetahuan dalam batas waktu yang telah ditentukan karena ada factor tertentu yang mempengaruhinya.
Siswa yang lamban belajar dan berprestasi rendah dapat pula di akibatkan oleh factor IQ. Siswa lamban belajar yang di sebabkan oleh factor IQ, pada umumnya memiliki prestasi rendah, lain halnya dengan siswa lamban belajar yang diakibatkan oleh lemahnya kemampuan menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar tertentu pada sebagian materi pelajaran yang harus dikuasi sebelumnya.Cirri – Ciri Umum Siswa Lamban Belajar, yaitu
Ø  Fisik
Ø  Perkembangan mental
Ø  Perkembangan intelek
Ø  Sosial
Ø  Perkembangan kepribadian
Ø  Proses belajar yang dilakukannya
c.       Murid cepat belajar
Secara umum dapat disimpulkan bahwa murid cepat belajar adalah:
1)      Murid yang pada umumnya mempunyai intelegensi tinggi.
2)      Murid yang cepat sekali menerima, menguasai, dan memahami serta memproduksi pelajaran yang diterimanya.
3)      Murid yang rengking hasil rata-rata prestasi akademisnya tinggi.
4)      Murid yang sikap, kerajinan, kebersihan dan kesehatannya baik.
 
Virget S. Ward menyatakan bahwa pendidikan bagi anak-Murid Cepat Belajar perlu perhatian seksama. Dia menganjurkan argumentasi sebagai berikut:
a.       Perlunya program khusus untuk Murid Cepat Belajar
b.      Dibutuhkan teori tentang pengalaman pendidikan, mana praktek pendidikan yang berhasil dan mana praktik pendidikan yang gagal untuk anak-Murid Cepat Belajar.
 
2.          Kesulitan belajar khusus
a.       Gangguan perkembangan persepsi
Konsep modalitas-perseptual yaitu gangguan tentang pemrosesan perseptual yang terkait dengan kesulitan belajar didasarkan pada premis bahwa anak-anak belajar dengan cara yang berbeda-beda. Ada tiga alternatif metode pembelajaran, yaitu:
1)     Memperkuat modalitas yang lemah
2)      Mengajar melalui keseluruhan modalitas
3)      Menggabungkan kedua metode tersebut.
Sistem perseptual bemuatan lebih berarti bahwa penerimaan informasi dari suatu modalitas lain.
Jenis persepsi yaitu diantaranya, persepsi auditoris, persepsi visual, serta persepsi taktil dan kinestetik.
b.      Bimbingan kesulitan membaca
1.      Hakikat kesulitan membaca (Disleksia)
Menderita disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis atau “kesulitan membaca”.
2.      Asesmen
Suatu sekolah sebaiknya memiliki data yang lengkap tentang anak. Data tersebut mencakup riwayat anak sejak dikandung. Keadaan keluarga, skor tes inteligensi, kondisi pendengaran dan penglihatan, dan sebagainya. Data tersebut hendaknya tersimpan secara baik tetapi mudah untuk memperolehnya kembali. Data semacam itu belum dapat secara langsung digunakan untuk memberikan intervensi bagi anak berkesulitan belajar tetapi dapat memberikan gambaran umum tentang anak.
3.      Teori Disleksia
Gangguan kesulitan membaca menurut tokoh biologi terletak pada gangguan fungsi otak (pada belahan otak sebelah kiri dan terkadang otak disebelah otak kanan). Perkembangan disleksia dalam bahasa yang berbeda bersumber dari biologis, gangguan otak kiri yang berhubungan dengan proses fonologi. Bagian otak yang diduga berkaitan dengan terjadinya disleksia antara lain: Corpus Callosum kiri, Lobus parieto-temporal kiri, Lobus temporal kiri, Lobus pre-frontal.
4.      Penyebab Disleksia
     Berbagai riset teori (Frith, 1997; Morton dan Frith, 1995 dalam Erskine, 2005) menunjukkan ada beberapa sebab disleksia yaitu, biologis, kognitif, dan perilaku.