Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya :)

Kamis, 09 Januari 2014

KONSEP DASAR, RUANG LINGKUP, PRINSIP dan ASAS BK BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Siswa adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Di dalam proses belajar mengajar sangat banyak permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Guru yang profesional akan membantu setiap permasalahan yang dihadapi oleh siswatersebut terutama adalah guru Bimbingan dan Konseling. Oleh sebab itu seorang guru BK haruslah memahami apa itu bimbingan dan konseling belajar agar seorang guru BK dapat mengentaskan permasalahan yang terjadi pada siswa secara tepat. Dalam makalah ini kami akan mengulas mengenai konsep dasar, ruang lingkup, prinsip-prinsip serta azas-azas dalam bimbingan dan konseling belajar.
 
B.     Rumusan Masalah
1.        Apa konsep dasar bimbingan dan konseling belajar?
2.        Apa saja ruang lingkup dari bimbingan dan konseling belajar?
3.        Apa saja prinsip-prinsip bimbingan dan konseling belajar?
4.        Apa saja azas-azas bimbingan dan konseling belajar?
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling Belajar
            Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”.
            Konseling berasal dari bahasa latin consillium berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Sedangkan dalam bahasa anglosaxon istilah konseling berasal dari istilah sellan yang berarti menyerahakan atau menyampaikan. Sebagaimana istilah bimbingan, istilah konseling juga mengalami perkembangan dan perubahan.
            Belajar merupakan aktivitas siswa dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, baik menyangkut aspek kognitif (intelektual), afektif  (sikap, keyakinan, kebiasaan), konatif (motif, minat, cita-cita) dan psikomotorik (ketrampilan), melalui interaksi dengan lingkungan (seperti di rumah dengan orang tua, di sekolah dengan gru, dsb). Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.
            Layanan bimbingan belajar yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.
            Secara rinci tujuan bimbingan belajar dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.         Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang anak atau sekelompok anak.
2.         Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dan menggunakan buku pelajaran.
3.         Memberikan informasi (saran dan petunjuk) bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
4.         Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri dalam ulangan dan ujianMemilih suatu bidang studi (mayor atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasaan,  cita-cita dan kondisi, fisik atau kesehatannya.
5.         Menunjukkan cara-cara menghadapi kesulitan dalam bidang studi tertentu.
6.   Memilih suatu bidang studi (mayor atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasaan,  cita-cita dan kondisi, fisik atau kesehatannya.
7.        Menentukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal belajarnya.
8.      Memilih pelajaran tambahan baik yang berhubungan dengan pelajara disekolah maupun untuk pengembangan bakat dan kariernya dimasa depan.
Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling Belajar
Dibawah ini merupakan ruang lingkup bimbingan dan konseling belajar:
1.          Kesulitan belajar
Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi daam suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hail belajar
Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi :
1.          Kesulitan belajar
Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi daam suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hail belajar.
a. Faktor internal
Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi :
1.      Faktor fisologi (yang bersifat jasmani) seperti sakit atau tidak fit.
2.      Faktor psikiologis (yang bersifat rohani) seperti tingkat kecerdasan, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.
b. Faktor eksternal 
Yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa yang meliputi :
1.      Faktor non sosial seperti keluarga, keadaan ekonomi, alat pelajaran, kondisi gedung, kurikulum, waktu sekolah dan disiplin kerja, orang tua.
2.      Faktor sosial seperti media massa, teman bergaul, lingkungan tetangga, aktivitas dalam masyarakat.
Diagnosis Kesulitan Belajar, sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan jenis penyakit yakni jenis kesulitan belajar siswa. Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai diagnosis kesulitan belajar.
Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut:
1.      Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2.      Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar
3.      Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar
4.      Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakiki kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.      Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Pemecahan Masalah Kesulitan Belajar, banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut:
1.    analisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
2.      Memerlukan dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3.      Menyusun program perbaikan khususnya remedial teaching (pengajaran perbaikan)
4.      Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
1.         Bimbingan bagi murid berkebiasaan buruk, murid lambat belajar, dan murid cepat belajar.
a.       Murid yang berkebiasaan buruk
Murid yang berkebiasaan buruk adalah perbuatan atau sikap seorang murid yang berulang kali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan perbuatan attau sikap sebagaimana diharapkan dari padanya oleh orang lain (badan penelitian dan pengembangan pendidikan (BP3K), Jakarta:1987).
b.      Murid lambat belajar
Siswa lamban belajar dan berprestasi rendah adalah siswa yang kurang mampu menguasai pengetahuan dalam batas waktu yang telah ditentukan karena ada factor tertentu yang mempengaruhinya.
Siswa yang lamban belajar dan berprestasi rendah dapat pula di akibatkan oleh factor IQ. Siswa lamban belajar yang di sebabkan oleh factor IQ, pada umumnya memiliki prestasi rendah, lain halnya dengan siswa lamban belajar yang diakibatkan oleh lemahnya kemampuan menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar tertentu pada sebagian materi pelajaran yang harus dikuasi sebelumnya.Cirri – Ciri Umum Siswa Lamban Belajar, yaitu
Ø  Fisik
Ø  Perkembangan mental
Ø  Perkembangan intelek
Ø  Sosial
Ø  Perkembangan kepribadian
Ø  Proses belajar yang dilakukannya
c.       Murid cepat belajar
Secara umum dapat disimpulkan bahwa murid cepat belajar adalah:
1)      Murid yang pada umumnya mempunyai intelegensi tinggi.
2)      Murid yang cepat sekali menerima, menguasai, dan memahami serta memproduksi pelajaran yang diterimanya.
3)      Murid yang rengking hasil rata-rata prestasi akademisnya tinggi.
4)      Murid yang sikap, kerajinan, kebersihan dan kesehatannya baik.
 
Virget S. Ward menyatakan bahwa pendidikan bagi anak-Murid Cepat Belajar perlu perhatian seksama. Dia menganjurkan argumentasi sebagai berikut:
a.       Perlunya program khusus untuk Murid Cepat Belajar
b.      Dibutuhkan teori tentang pengalaman pendidikan, mana praktek pendidikan yang berhasil dan mana praktik pendidikan yang gagal untuk anak-Murid Cepat Belajar.
 
2.          Kesulitan belajar khusus
a.       Gangguan perkembangan persepsi
Konsep modalitas-perseptual yaitu gangguan tentang pemrosesan perseptual yang terkait dengan kesulitan belajar didasarkan pada premis bahwa anak-anak belajar dengan cara yang berbeda-beda. Ada tiga alternatif metode pembelajaran, yaitu:
1)     Memperkuat modalitas yang lemah
2)      Mengajar melalui keseluruhan modalitas
3)      Menggabungkan kedua metode tersebut.
Sistem perseptual bemuatan lebih berarti bahwa penerimaan informasi dari suatu modalitas lain.
Jenis persepsi yaitu diantaranya, persepsi auditoris, persepsi visual, serta persepsi taktil dan kinestetik.
b.      Bimbingan kesulitan membaca
1.      Hakikat kesulitan membaca (Disleksia)
Menderita disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis atau “kesulitan membaca”.
2.      Asesmen
Suatu sekolah sebaiknya memiliki data yang lengkap tentang anak. Data tersebut mencakup riwayat anak sejak dikandung. Keadaan keluarga, skor tes inteligensi, kondisi pendengaran dan penglihatan, dan sebagainya. Data tersebut hendaknya tersimpan secara baik tetapi mudah untuk memperolehnya kembali. Data semacam itu belum dapat secara langsung digunakan untuk memberikan intervensi bagi anak berkesulitan belajar tetapi dapat memberikan gambaran umum tentang anak.
3.      Teori Disleksia
Gangguan kesulitan membaca menurut tokoh biologi terletak pada gangguan fungsi otak (pada belahan otak sebelah kiri dan terkadang otak disebelah otak kanan). Perkembangan disleksia dalam bahasa yang berbeda bersumber dari biologis, gangguan otak kiri yang berhubungan dengan proses fonologi. Bagian otak yang diduga berkaitan dengan terjadinya disleksia antara lain: Corpus Callosum kiri, Lobus parieto-temporal kiri, Lobus temporal kiri, Lobus pre-frontal.
4.      Penyebab Disleksia
     Berbagai riset teori (Frith, 1997; Morton dan Frith, 1995 dalam Erskine, 2005) menunjukkan ada beberapa sebab disleksia yaitu, biologis, kognitif, dan perilaku. 



0 komentar:

Posting Komentar

berikan komentar yang pantas dan sesuai